tolong pinjamkan

Tolong pinjamkan aku bulan, ketika senja sudah tiba. Bukan karena aku tak memiliki kekuatan, tapi sudah berulangkali aku mengalami senja yang sama. Selalu saja semburat menuangkan cat warna jingga di langit luas. Sampai tepinya mencapai batas terpinggir dalam nyanyian cakrawala.

Tolong pinjamkan aku bintang, ketika bulan telah tiba. Bukan karena bulan tak mempunyai kekuatan, tapi bulan telah benar-benar menghipnotis seluruh luka menjadi rasa. Ingin kutepis seluruh rinduku pada bulan dengan hadirnya bintang. Dan malam telah seribu tahun lalu mengecap kemunafikan padaku atas ini.

Tolong pinjamkan aku lentera ketika senja telah berlalu, dan bulan bintang tak lagi tiba. Menerangi nyanyian lagu malam tanpa nada dan irama. Walau remangnya tak cukup untukku melentikkan langit. Tapi paling tidak malam ini, aku tidak berbohong ketika aku berbisik : "Aku rindu."


--Jogjakarta, 6 April 2012 16:21--
--rindu ini kapan hadir?--

preman

Pekerja seni dan seniman itu berbeda!! Serumu.

Pekerja seni adalah orang yang mengerjakan seni, beberapa melakukannya dengan cinta tapi lebih sering membual karena tak lebih urusan perut meronta.

Seniman itu pilihan kehidupan, tapi bukan manusia yang memilih seni. Seni yang memilihnya !!

Aku tak peduli dengan cerocosnya yang membanjiri dinding ruangan kami sama-sama berdiri. Kubiarkan dia memperkosa dua makna yang bagiku sama.

Matanya yang pernah memikatku kini mendelik hampir loncat. Raut mukanya yang pernah meneguhkanku kini hijau geram bak buto ijo yang marah di kisah-kisah pewayangan.

Kesalahnku hanya standar. Memakinya pengangguran dan mencibirnya tak punya uang. Karna kami menikah, dua puluh tahun lamanya. Mengenalkan dirinya padaku dulu, dia seniman. Yang buatku kini, adalah makna yang sama dengan preman.


--Banaran, 24 Februari 2012 8:30--

dia datang lagi


Dia datang lagi. Pada saat rambutku sudah dua kali memanjang karena tak pernah aku pangkas. Mungkin kalau aku sanggup mengeja waktu, sudah 2 kali kembang api malam taun baru aku lewatkan tanpa namanya.

Dia hadir lagi. Hanya dalam dua potong kata.

Sejak awal sampai entah kapan dia menghilang dan kejadian pasti berulang sampai kesekian kali aku tak menghitungnya lagi, selalu dua kata itu yang dia tanyakan. "Apa kabar".

Aku tak pernah berpikir bahwa kabarku baik akan melegakan dirinya, atau kabarku buruk pun tak akan berpengaruh apa-apa padanya.

Dia seolah-olah angin yang datang, hinggap, lalu pergi. Tapi angin tak pernah memiliki jejak.

Pernah dia menjejak hati saat pertama kami bertemu. Hatiku. Tak sampai sempoyongan, aku hanya mengamati detik-detik dia melakukannya. Tak juga memberi respon apa-apa. Sampai suatu ketika aku panik sendiri karena aku tak mampu lagi mengolah rasa dan pemikiran secara logis.

"Aku nyaman di dekatmu". Hanya sepenggal kalimat itu yang aku katakan dan mendapat jawabanmu bahwa kau belum siap untuk berhubungan atas dasar apapun.

Aku memilih mundur dan membiaskan rasa pada semua hal yang aku tahu. Aku tak mau kembali rapuh seperti tokoh wanita yang selalu sendu dalam berbagai roman pujangga manapun. 

Kubiarkan rasaku membentuk segala inchi hatiku merasakan hal-hal yang tak pernah kurasa. Kubiarkan mataku menembus segala dinding tembok yang ada mengamati dunia berjalan apa adanya. Kubiarkan tanganku menggenggam segala hal yang belum pernah aku genggam, merasakannya dan merekam bentuknya dengan lebih jelas. Kubiarkan aku sampai pada kesimpulan, aku ingin mencintai diriku sendiri melebihi siapapun sampai aku punya cinta yang berlimpah dan mampu kubagi dengan siapapun.

Dua potong kata menyapa. Dia datang lagi.

Rasa lalu telah beku. Walau dicairkan suhu matahari sekalipun, rasanya ampas pun tak bersisa. Tidak ada lagi namanya. Dia hanya sosok yang datang, hadir, lalu pergi. Hanya meninggalkan dua potong kata, "Apa kabar". 




--Jogjakarta, 18 Februari 2012 18:09--

rindu

Jika rindu adalah sebuah kata yang mudah dicairkan seperti sedang menaruh sesendok sirup yang disiram air, mungkin segalanya akan lebih sederhana. Tidak perlu berputar-putar pada alasan yang tak jelas. Tak beralasan sama sekali.

Jika rindu pada kata seperti mudahnya membuka lembaran kamus berbahasa manusia mana pun, lalu rindu seolah-olah terobati. Tapi nyatanya palsu. Kata punya jiwa, kata mengandung segala bias, dan terkadang kata memiliki dahaga.

Jika rindu milik manusia bodoh sepertiku yang tak pernah terhembus mendadak merana di batas rona. Kenapa definisi rindu menjadi berhenti di sini.

Aku rindu merangkaimu, membentukmu, membagimu menjadi sekuel-sekuel rasa.

Ketika memejamkan mata, seperti berlayar di atas samudera yang tenang, tapi tak mampu melihat arah. Tak ada bintang utara, tak ada angin selatan, tak ada bulan purnama, tak ada duyung yang mengabarkan buih daratan.

Tersesat.





--Jogjakarta, 18 Oktober 2011 20:32--

mampus

Kalo kamu di sini, kamu -- aku peluk, kamu -- aku elus, aku manja, sampe kamu mampus. Kalo kamu di sini, kamu -- aku ceritain, kamu -- aku curhatin, aku kasih tau kalo aku hampir mampus. Kalo kamu di sini, kamu -- aku kasih susu putih campur cokelat kesukaanmu, kamu -- aku beri apa yang kamu mau.

Kalo aku di sini, aku -- kamu anggurin, aku -- kamu biarin, sampe aku mampus. Kalo aku di sini, aku -- kamu diemin, aku -- kamu cuekin, sampe aku gak bisa ngomong kalo hampir mampus. Kalo aku di sini, kamu selalu bilang -- suka-suka aku mau apa sama kesukaanku.

Kalo kamu di sini, aku mampus. Kalo aku di sini, aku benar-benar mampus.





--Jogjakarta, 9 April 2011 15:13--
--kita kok nggak pernah sama--

aku pergi

"Dia perempuan yang sudah mapan."

Aku sudah tau akan berakhir ke mana pembicaraan seperti ini. Rasanya dalam beberapa tahun ini, pembicaraan seperti ini sudah menjadi hal yang sangat biasa bagiku. Seperti sarapan pagi dengan sekerat roti dan segelas susu.

"Dia lebih dewasa dariku. Lebih tua tiga tahun."

Ya, dan aku lebih muda darimu. Lebih muda tiga tahun. Hal yang sangat berbanding terbalik dengan wanita itu. Bagimu dewasa adalah memanjakan, bukan dimanjakan. Aku sudah tau dari awal. Kebetulan aku bukan perempuan yang suka memanjakan, juga dimanjakan. Ketika setiap perempuan membutuhkan belaian di rambutnya, aku tidak. Atau jika ada perempuan yang selalu membutuhkan kecup di bibirnya, aku tidak.

"Aku bertemu dengannya di lingkungan kerja. Dia kerja di kantor sebelah."

Aku tahu, hubungan kita memang bertahan di tempat yang sama. Tidak maju, juga tidak mundur. Padahal salah satu dari kita selalu mengulang bahwa jarak bukanlah hal besar yang menjadi penghalang. Bukan berarti jarak tidak mampu mendekatkan hati yang tengah bercinta. Ah, rasanya cinta kita memang selalu hambar. Tak ada variasi kecuali suara gombal dan pesan murahan yang selalu kuterima melalui email.

"Minggu lalu aku bertemu dengan keluarganya."

Rasanya kau memang belum pernah bertemu dengan keluargaku. Aku tidak pernah yakin memiliki cinta untukmu. Aku juga tidak pernah yakin bahwa kaulah orangnya. Aku malas mengenalkanmu pada keluargaku. Jika aku salah, aku harus mengulangi segalanya dari awal. Sungguh sangat membosankan.

"Dan aku sudah melamarnya."

Bagus. Akhirnya setelah kesana-kemari, kau mulai masuk pada intinya. Aku tak butuh lelaki yang suka bertele-tele,"Jadi maumu apa?" lebih baik kuakhiri saja. Toh sudah jelas ke mana pembicaraan ini akan berakhir.

"Aku akan menikahi perempuan itu akhir bulan ini."

Kuminum kopi terakhir di gelas. Sekali telan, sudahlah.

"Baik, aku pergi," jawabku sambil berdiri, meninggalkan yang telah lalu.





--Jogjakarta, 4 April 2011 15:41--
--dia bukan untukku--

fiksi

Apakah saya menulis fiksi? Ataukah fiksi yang menulis tentang saya? Entah, saya mulai bingung. Saya seperti berdiri di antara keduanya. Berdiri tak mampu, jatuh pun tak mau.

Adakah hierarki gramatikal dari sebuah tulisan? Berkaitan dengan masa lampau? Kenapa selalu dihubung-hubungkan? Karena manusia selalu doyan gosip dan berbincang. Tak ada kata berhenti setelahnya. Tak ada jeda melihat realita. Semu pun menjadi nyata.

Saya ingin memantik rokok sebatang. Tapi rokoknya habis. Entah, lewat apa harus saya keluarkan rasa pusing yang mendera kepala. Bahwa ini fiksi, tak ada yang peduli. Bahwa ini fiksi, tak ada yang mengerti. Jika rokok adalah apresiasi, maka apresiasi akan cepat habis, karena rokok selalu habis. Lalu di mana kematian apresiasi? Asbak, kata fiksi.

Tentang fiksi, banyak orang bilang fiksi bicara tentang kejujuran. Untuk apa jujur pada fiksi? Untuk apa berbicara dengan diri sendiri? Fiksi bukan catatan harian menjemukan, berisi isak tangis, pertemuan, dan perpisahan. Klise dan sangat parah. Bosan.

Tak ada yang menarik bahkan untuk sebuah kematian di dalam fiksi. Pun kematian saya. Saya mati kata, fiksi mematikan saya. Meskipun fiksi bukanlah ular berbisa.

Jika fiksi menggetarkan, mengapa tidak semua orang merasakan hal yang sama? Nyata. Setiap orang tak pernah menaruh harapan yang sama. Harapan yang akan tergilas jika fiksi itu berakhir. Apakah sesuai harapan? Atau hanya munafik belaka?

Fiksi adalah kemunafikan terhadap sebuah kejujuran. Bagi saya, itu adalah hal yang wajar. Walau terkadang sulit untuk diterka. Karena fiksi memainkan kata, bukan takdir. Fiksi adalah kumpulan aksara, bukan jalan kehidupan. Hanya jalan cerita. Tokoh fiksi dibuat secara nyata, menipu realita. Meski jalan cerita dibuat seadanya, dan seringkali juga mengada-ada.

Bahwa fiksi ...


"Ayndra, sedang apa?"

"Ahh, hanya mengerjakan tugas sekolah, Bunda."

"Kalau begitu tidur ya. Sudah tengah malam."

"Iya, Bunda. Habis ini laptop saya matikan."


Bahwa fiksi Bahkan fiksi pun bisa terjadi dalam kehidupan realita karena manusia menghidupkannya tidak lagi sebagai jalan cerita.





--Jogjakarta, 27 Maret 2011 23:57--
--fiksi berat--

pertanyaan

Hai?

Ya.

Sudah makan?

Apakah penting untukmu kalau aku sudah makan?
Ya.

Sudah minum obat?

Tidak minum obat pun aku tak kan mati. Ini hanya flu biasa.
Ya.

Tadi malam tidur nyenyak?

Aku rasa tidurku baik-baik saja. Kau tak perlu risau tentang tidurku.
Ya.

Jaga diri baik-baik, jaga kesehatanmu.

Tak perlu kau katakan, aku juga tahu. Siapa yang mau sakit? Atau siapa yang mau sehat? Buat apa sehat sebenarnya?
Ya.

Oke. Kalau begitu aku tidur dulu. Sudah pagi, belum tidur semalaman.

Lalu buat apa kau bertanya padaku tentang ini itu. Atau kau tidak bisa bertanya pada tubuhmu sendiri? Semua pertanyaan yang kau lontarkan lebih tepat tertuju untukmu.
Ya.

Hari ini ada rencana ke mana?

Kau bilang kau mau tidur. Kenapa masih bertanya tentang hal lain?
Entah.

Oke deh. Aku tidur ya. Ngantuk.

Ya.

Baik-baik ya hari ini.

...


Tuut tuut tuuuut.





--Jogjakarta, 27 Maret 2011 10:08--
--fiksi sedikit berat--

janji

Malam berubah dingin, ketika hujan tak juga mau berhenti. Kulirik asbak yang penuh dengan puntung. Kuraih handphone dan mengetik pesan singkat.

"Dingin. Gak jadi dinner."
TERKIRIM

Kubatalkan janji. Cukup meringkuk di balik selimut.

Kulirik asbakku lagi. Masih penuh. Kubatalkan memantik rokok terakhir. Kuraih handphone kembali. Mencari sebuah nama. Ketemu.

"Hai. Gak jadi dinner bareng pacar nich. Keluar yok."
TERKIRIM

Tak berapa lama ku menunggu. Dia datang. Mengecup bibirku sekilas, memagut telingaku. Lalu bibirnya beralih ke jemari tanganku.

"Kita ke mana?" senyumnya menang. Senyuman seorang lelaki yang mendapatkan bingkisan tak terkira.

"Kita ke..."

Tilulilut tilulilut. Mendadak handphone-nya berdering.

"Iya.. iya.. oke," sahutmu datar.

Kau tutup teleponmu, "Maaf ya. Dinda minta diantar ke dokter. Perutnya sakit, takut ada apa-apa sama si jabang bayi."

Senyumku berubah. Datar dan dingin. Aku berbalik ke kamar tanpa satu kata pun.

Handphone-ku kembali berdering. Kulihat sebuah pesan singkat masuk.

"Maaf ya. Lain kali janji gak batal lagi deh. Maklum, anak pertamaku."





--Jogjakarta, 25 Maret 2011 19:25--
--tanpa pemantik--

trans (batas, logika, khayalan)

Kubuka korden dan jendela. Menatap mentari yang baru muncul dari balik pepohonan. Mendadak kusain bergetar hebat. Lantai juga serasa maju mundur. Mendadak ku terjatuh, limbung.

"KRAAAK !!"

Entah bunyi apa di luar. Getaran begitu hebat. Aku bangun dengan lutut goyah. Mencari pintu yang menjadi sangat jauh jaraknya. Belum sempat keluar, mendadak dunia gelap.

"Bangun, Nak. Bangun, Sayang."

Kubuka mataku perlahan. Ada oma dan ada opa mengulurkan tangan. Dengan senyum manis, memikat kerinduan. Penuh wibawa dalam setiap goresan keriputnya. Oma, opa, rasa rindu menyeruak lama tak bertemu.

"Kenapa cuma bengong? Ayo ?!"

Aku hanya terdiam. Melihat jalanan terang di ujung sana. Bunga-bunga terlihat mekar dengan indahnya. Mentari sangat hangat di ujungnya.

Kulihat sekitar. Bajuku terusan berwarna putih. Kakiku telanjang di atas kerikil.

Kulangkahkan kaki ke depan. Kerikil terasa panas. Oma dan opa berjalan lebih dulu bergandengan tangan. Kerikil terasa makin panas, aku berhenti. Oma dan opa menengok, melambaikan tangan menyuruhku cepat-cepat ke arah mereka.

Kulihat kakiku yang telanjang. Kerikil tak berwarna merah. Dan aku masih berhenti, diam.

Mendadak angin berhembus begitu cepat. Sangat dingin. Aku panik karena bajuku tak melindungiku dari hawa dingin. Rasanya ingin berjalan menyusul oma dan opa. Tapi kerikil makin panas setiap aku melangkah.

Aku berhenti, aku terdiam.

Tiba-tiba kerikil bergetar. Angin kembali menghembus, dingin. Aku limbung dan terjatuh. Kupejamkan mata. Aku panik.

"Dok... Dok.. Pasiennya bangun, Dok !!"

Kudengar sayup dari kejauhan. Kubuka mata perlahan, berat rasanya. Tubuhku pegal tapi aku tak merasakan sakit. Lalu kulihat seorang perempuan dengan seragam hijau mudanya berlalu keluar. Tak lama, perempuan tadi menghampiriku bersama dengan seorang lelaki muda berjas putih.

Rasanya lelah, tapi aku tak ingin tertidur kembali.



--Jogjakarta, 25 Maret 2011 16:48--
--[16.04] gempa lokal--

berbisik

“Hujan kembali mendera bumi,” bisikku pada jendela.
“Meretakkan langit, menurunkan rintik.”
“Menghanyutkan bening...”

“Non Asya, telefon,” ujar bibik ragu-ragu di belakangku.

“Iya, aku dengar deringnya. Tutup saja, Bik.”

“Tapi ini dari ibu, Non?” tanya bibik sekali lagi.

“Tutup saja, saya sedang berfikir.”

Bibik berlalu dari kamarku. Kuhela nafas panjang.

“Gemuruh mengalunkan irama,” bisikku lagi pada teralis.
“Garis mendung milik langit mengantarkan perlambangan.”
“Mengalir air dalam arusnya, deras, pekat.”

“Non, kali ini bapak yang nelfon,” ujar bibik masih ragu-ragu di belakangku.

“Tutup saja, Bik.”

“Bapak ngotot bicara, Non,” bibik menunggu.

Kuhela nafas panjang dan turun ke lantai satu meraih telefon.

“Hello, Daddy. How are you? Holland still winter, yea?” tanyaku basi.

“Asya!!” kudengar hampir jeritan di sana.

“Daddy, pleace. Calm down lah. Asya tahu, Asya sudah gugurin tadi pagi. Dukun dari Bogor.”

“Kamu langgar janji kamu ke Daddy juga mommy. You know what its mean!!” kujauhkan telfon dan memandang hujan dari pinggir jendela.

“ASYA!! Asya!! Are you hear me?!” buru-buru kuraih lagi gagang telefon.

“Yea, I know,” kututup malas telefon dan kembali ku duduk di pinggir jendela.

“Meregangkan satu nyawa, mengusirnya pergi dari kehidupan,” bisikku pada tirai.
“Kau beruntung tak mengecap kehidupan.”

“Non, Non!! Duh, Masya Allah. Non Asya kenapa?! Aduh ini gimana? Non, bangun Non. Pak Tarjo, Pak !!! Tolong, aduh, TOLOONG!!!!”

Kulihat dari pinggir jendela, bibik sibuk membangunkanku, pak Tarjo sibuk membopongku, dan aku hanya terpaku pada merahnya kasur putihku. Ahh, tubuhku mau dibawa ke mana oleh mereka.





--Jogjakarta, 20 Marei 2011 14:02--
--hanya klise--

dia yang memperhatikanku

"Belum tidur?" kau kecup pipiku perlahan.

"Belum," mata dan jariku tak beralih dari layar dan keyboard notebook di depanku.

"Tengah malam."

"Aku tahu."

Setelah mengingatkanku, kau kembali tertidur merapatkan selimut. Suasana kembali hening. Mataku masih tak beralih dari puluhan program yang sedang kubuka, menyisir satu persatu tulisan yang tertera di sana. Jariku hanya mengetik sesekali.

"Uhh, penat," kuregangkan punggung dan tanganku meninju langit-langit.
"Bikin susu panas aja ah."

Kuangkat pantatku dari kursi yang semakin panas. Mataku sebenarnya lelah, tapi rasanya kalau kutunda pekerjaan ini besok, sama saja harus mengulangi dari pemanasan dulu sebelum mengerjakan. Tanggung !!

Kubuka lemari dapur mengambil gelas. Menyobek sachet susu instan. Rasanya ada yang memperhatikan.

"Ehh, kok nyusul tidur?"

Tak kupedulikan pertanyaanmu, kupeluk perutmu erat-erat. Kau yang mendadak terganggu, memilih membelai rambutku.

"Enakan ditemenin kamu ketimbang ditemenin mas ocong," bisikku.

"Hmm, berdoa ya sebelum tidur," kembali kau kecup keningku.

"Iya, aku berdoa semoga susu instanku enggak dia minum. Udah dituang ke gelas, kutinggalin di dapur gitu aja," semakin kurapatkan mataku ke perutmu.

"Dasar !"





--Jogjakarta, 10 Maret 2011--
--selamat malam--

dari balik perdu



Cukup lelah mengikuti kaki-kaki kecil. Mengawasi kumpulan mungil dari kejauhan dengan hati yang sedikit was-was.

Sesekali kuteriakkan, "Jangan jauh-jauh! Ayo ke sini."

Kemudian kumpulan mungil pun akan patuh pada sumber suara. Terkadang turut kembali padaku dan merebahkan kepala mungil di pangkuan.

"Oma," bisikan mungil.
"Langit pagi begitu tenang, begitu damai, yaa," aku hanya menganggukkan kepala.

"Oma! Vallen! Ikan! Besaar!!"

"Hati-hati, Darl !" kuperingatkan si bungsu yang mengangkat pancingannya sambil berlari ke arahku.

"Of we koken vis voor de lunch?" dan si bungsu pun tertawa.

"Akan kukembalikan ke kolam, Oma."

Mataku tak beralih saat kaki mungil Darl kembali menuju genangan air bernama danau itu.

"Oma?"

Ahh, suara mungil itu membangunkanku dari mimpi. Kulihat sekeliling, tak ada apa-apa. Hanya ada perdu yang terus mengangguk tertimpa angin.

Kututup majalah yang kubawa dan selanjutnya kulipat tikar tempatku tertidur.

Ketika akan beranjak, kembali kulihat danau itu di kejauhan.

"Ben je goed, kleine? Oma mist jullie," bisikku sebelum meninggalkan kumpulan perdu.

"Oma. Darl en Vallen missen Oma," bisik mereka dari balik perdu-perdu dingin yang tak pernah kudengar.


---#---







Google translator

Of we koken vis voor de lunch = apakah kita masak ikan untuk makan siang
Ben je goed, kleine? apakah kalian baik-baik saja, mungil?
Oma mist jullie = oma rindu kalian
Darl en Vallen missen Oma = Darl dan Vallen rindu oma


--Jogjakarta, 12 Februari 2011 19:55--
--terkadang ada hal yang tak mampu terselesaikan--

pict. source = dinasay.blogspot.com

cinta ini tak kan habis, mak




Emak,
lama tak bersua. Dulu dan sekarang aku sama, emak pun sama. Umurku memang bertambah, tapi aku masih kanak-kanakmu mak. Aku masih suka mencium bau ketiakmu walau sekarang aku lebih suka bau sabunmu dan lebih sering menyemprotkan minyak wangiku menutupi aroma tubuhmu.

Emak,
sudah lama aku menangkup janji tak akan lagi menangis di depanmu. Bukan sebagai bukti kedewasaan atau keangkuhanku, aku cuma ingin jadi anak yang tersenyum kalau kau menangis, sama halnya emak yang tersenyum jika aku menangis semasa di gendonganmu dulu.

Emak,
aku tak sanggup menghitung berapa banyak kebaikan yang kau berikan untukku. Tapi aku masih mampu menghitung kebaikan yang kuberikan untukmu dengan jemariku. Lalu kau hentikan aku saat aku berhenti di hitungan ke sekian, "tak perlu", katamu sambil tersenyum.

Emak,
dari sekian doa yang kau lantunkan untukku, aku masih tak percaya bahwa kau ingat keinginan konyol yang kuutarakan dan kau selipkan di sela-sela pintamu pada Tuhan. Tempo lalu kau ingatkan aku tentang keinginan yang sudah kulupakan bertahun lalu dan kau menantangku untuk mewujudkannya. Dari sekian kealpaanmu tentang dunia, kau masih mengingat celotehanku.

Emak,
terima kasih telah menjadikanku seorang manusia. Maaf, jika aku tak menjadi baikmu. Aku tak ingin mengurai air mata di depanmu, karena aku cintaimu mak. Cinta ini tak akan habis. Tak pernah.




--Jogjakarta, 2 Januari 2011 9:46--
--aku rindu kamu, mak--

pict. source = chillinaris.blogspot.com

ketika nama tak lagi bermakna



Lalu kau akan terbang,
berlandas ombak diselingi sinar mentari
bersama anyelir yang gugur tanpa angin

Desember 31, 2009


Kututup buku harianku dan memandang mendung yang mengalir di langit luas. Kurebahkan punggungku pada kursi akar wangi kesukaanmu, rasanya kau masih di sini. Hangatmu masih tersisa dan itu membuatku tersenyum tipis.

"Anyelir"

Rasanya ada yang memanggil namaku, tapi tak ada siapapun ketika ku menengok. Ah, halusinasi.

---

"Pak, ini sudah saya masukkan ke kardus semua. Tinggal nunggu si Mamang masukin ke pick-up."
"Pak ... pak ?!"


"Ah, ya, bik. Makasih ya." kulihat bibik pun berlalu ke dapur membereskan yang tersisa.

Aku masih terpaku pada kursi akar wangi yang kosong, tempatmu menungguku pulang. Hari ini tepat tiga tahun kita menempati rumah ini, rumah yang kubeli dengan keringatku sendiri. Sekarang, tanpamu, aku memilih pergi.

"Anyelir," bisikku memanggil namamu.

---

"Pak, sudah rintik. Hampir hujan, mari pulang."

"Bibik ke mobil duluan saja, sebentar saya masih mau di sini."

Kulirik dari sudut mata, bibik pun berlalu. Dan aku masih terpaku padamu, pada sebuah batu.

Anyelir binti Gunarjaya
Lahir : 2 Juni 1982
Wafat : 30 Desember 2009

"Baik-baik ya, sayang. Aku pergi. Ah ya, selamat tahun baru."
"Anyelir," kubisikkan lagi nama pada nisanmu.

---

"Kenapa kamu lama sekali, sayang? Jam segini masih belum pulang" batinku.

"Anyelir"

Kutengok lagi ke arah pintu, dan lagi-lagi aku berhalusinasi suara bisikan yang memanggil namaku. Kuhela nafas berat, dan kembali merebahkan punggung di kursi akar kayu wangi kesukaanmu. Dan aku pun tertidur, lama.

---selesai---




--Jogjakarta, 28 Desember 2010 23:27--
--dalam benci kepada cinta--

pict. source = katie-d-i-d.blogspot.com

Melly Goeslow - Suara hati seorang kekasih



iblis juga kadang jenuh

Beberapa berkas usulan Rancangan Goda berjejal di meja, rasanya malas kusentuh. Dari beberapa hari kemarin cuma duduk di balik meja kerja sambil sesekali bermain percikan api mancur di sudut mejaku. Laporan bawahan pun kuanggurkan begitu saja.

Ditambah pula proyek perekrutan penggoda baru di beberapa divisi mau tak mau membuatku harus mengirim balik berkas lamaran yang disetujui divisi kami. Tidak sembarangan kami menerima penggoda, selain level tingkat ajar yang sudah distandarkan untuk beberapa posisi, kami juga harus mempelajari berkas para calon dengan teliti, baru nanti beberapa yang terpilih akan diselidiki selama seminggu untuk mendapatkan tanda sah kami atas diterimanya si calon menjadi iblis penggoda di divisi ini. Dan sepertinya, ratusan berkas pelamar masih ada di ujung ruangan.

Kabar yang baru saja kuterima tidak juga membuatku kembali sedikit bergairah. Ruw dan Ana baru seminggu ini telah menempati rumah baru mereka. Relokasi yang dilakukan Pengelola Wilayah Duniawi untuk area 3 memang dilakukan beberapa tahap, kebetulan mereka dapat jatah tahap pertama, tak perlulah menunggu lama.

Tapi tetap saja, rasa-rasanya jenuh ini tak mau beralih barang sejenak saja. Kalau aku begini terus, bisa-bisa Pengelola Bagian Kerja memberi surat teguran karena grafik efisiensi kerjaku mulai menurun.

Akhirnya aku memutuskan beranjak keluar ke Pengelola Koleksi Buku Kerajaan setelah sebelumnya meninggalkan pesan ke Asisten Petinggi Divisi Penggoda Lelaki di tempatku. Kuambil beberapa buku di sana dan menghabiskannya di Taman Koleksi sambil sesekali mengintip mendung yang bergelayut di langit manusia.

Jika mendung datang, biasanya laporan bawahan juga mulai meningkat. Lebih mudah menggoda lelaki di hari yang dingin, begitu alasan para bawahanku. Tapi karena aku berada jauh dari meja kerjaku, biarlah. Mau dikerjakan pun, laporan yang kemarin saja belum ada yang kubaca.

Apalagi kudengar dari beberapa penggoda lapangan yang kadang mampir ke atas, beberapa hari ini manusia area AsTe sedang mencapai euforia pertandingan di mana para pemain dan pelatihnya seluruhnya berjenis lelaki. Lagi-lagi divisiku jadi kena getah kerjanya juga. Meskipun pembagian tugas sudah kulakukan saat pertemuan penggoda beberapa hari lalu, tetap saja sebagai penggoda level tinggi sepertiku ini haruslah mengawasi kerja para bawahan. Ahh, rasanya ruh apiku mau pecah saja menuangkan kembali tumpukan pekerjaanku kali ini.

"Tiffie !!"

Hampir saja menghabisi setengah dari halaman pertama buku yang kubaca di Taman Koleksi, tak disangka devil pocket messenger milikku berbunyi.

"Divisi Pengelola Kerja menagih berkas pelamar, secepatnya. -Luffie-"

Aku cuma termangu di taman sambil membaca kembali pesan yang dikirimkan asistenku. Secepatnya itu artinya lebih cepat dari percepatan halilintar. Dan aku pun bakal cepat-cepat kembali ke meja kerjaku, meneliti ratusan berkas yang hanya akan kuambil beberapa saja.

Aku jenuh !!


---

Ditulis oleh malaikat hitam yang telah sempurna berubah menjadi manusia berhati iblis sebelum menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda.




---


kisah ini adalah serial iblis


--Jogjakarta, 27 Desember 2010 23:09--
--ide oot yang diteruskan tapi malah keterusan--

pict. source = sodahead.com

suratku untuk langit




Langit,
Hari ini kau cerah, damai memandangnya. Khatulistiwa memelukku hangat, meredam segala jenis kekecewaan pada hidup yang sedikit terpulas hitam. Semilir angin lembut, menyibak rambutku pelan, membelaiku. Terima kasih, aku merasa tenang.

Langi,
Birumu yang tergores awan putih, memang bukan biru milik danau yang sanggup memantulkan semua ekspresimu. Aku tau kau mampu menerka emosiku bahkan arti sebersit senyuman milik bibirku, dan kau tak pernah membisikkannya pada dunia. Terima kasih, kau menjaga rahasiaku.

Lang,
Seringkali aku berniat meminjam sayap malaikat, untuk terbang ke labuhmu. Sayangnya, sebelum kuutarakan niat ini, malaikat pergi menjauh. Hanya iblis kecil menemaniku di sini, menawarkan sebagian sayapnya untuk kupakai. Tapi aku tak mau, sayapnya hitam kelam, sekelam dirimu jika kau sedang mengantarkan badai. Walau aku belum mampu terbang ke sana, terima kasih langit, tak ada badai pagi ini.

Lan,
Aku hidup di dunia abu-abu, campuran dari hitam dan putih yang terus bergantian. Terkadang dunia ini berwarna abu-abu terang, meskipun tak jarang kutemui warna abu-abu pekat. Ketika sudah sampai pekat, harusnya aku menjadi putih. Harusnya. Terima kasih langit, birumu sedikit mengurai hitamku, walau hanya sedikit.

La,
Detik waktu yang kumiliki selalu berputar ke depan. Aku mengejar jarumnya agar tak berdentang di angka dua belas, tapi aku selalu terlambat. Dentingan simfoni dua belas terlanjur terdengar memekakkan telinga. Aku benci dimensi waktu dan aku terjebak masa laluku. Terima kasih, bentangan luas milikmu memukauku barang sebentar, melupakan kebencian di dunia abu-abuku.

L,
Berhenti sejenakku, memandang geliatmu. Langit, Langi, Lang, Lan, La, L. Habis sudah. Terima kasih, telah menjadi saksi hitam dan putihku, lalu masuk ke dunia abu-abu. Aku terjebak, inginku keluar, aku bosan.

"Terima kasih langit, temani aku dengan birumu" bisikku.




--Jogjakarta, 15 Desember 2010 8:52--
--Ada seribu kata mampu terbias, tapi ada 3 kalimat yang susah diungkapkan. Cinta, terima kasih, dan maaf. Hari ini, kumulai dengan terima kasih.--

pict. source = photobucket.com (edited with photoshop)

semoga harimu indah



"Do you want to love me ? Or do you want I love you ?"


"Hah, kamu ngomong apa sih?"

"About love."

"Damn."

Laki-laki ini selalu saja mengikutiku. Duduk dengan sengaja di depanku. Selalu setiap hari di coffee shop tempat aku biasa menghabiskan brunch-time. Berbicara tentang hal yang sama, cinta.

"Aku tidak kenal kamu, aku tidak tau kamu siapa. Aku tidak peduli pada kamu dan aku tidak peduli pada apa yang kamu bicarakan," pernah aku berbicara demikian padanya. Tapi dia hanya memandangku dalam diam, kemudian meluncurlah dari mulutnya, "Don't you care about love?"

---

Hari ini adalah minggu pertama, hari kerja yang sangat sibuk. Tapi tetap saja aku keluar menagih brunch-time, tempat yang sama brunet-coffee, hanya di seberang kantorku.

Kupilih meja kosong dekat jendela, tempat biasa yang tak pernah disinggahi orang selain aku di jam segini. Tak lama waitress datang dengan apron merah mudanya dan aku memesan beberapa picis makanan dan banana-milk.

Tak lama kemudian makananku datang, aku sudah bersiap dengan novel tebalku sejak tadi. Sejenak waitress menyeletuk, "Maaf, ada titipan untuk anda nona."

Kukernyitkan alisku dan kulihat sekeliling sebelum membuka lipatan surat berwarna kuning. Lelaki itu tak datang, aneh.

Kubuka perlahan dan kubaca pelan.
"Terima kasih telah menjadi pendengar setiaku. Aku tak akan lagi bertanya tentang cinta padamu. Semoga harimu indah. Athen."

Hmm, jadi namanya Athen. Kubaca ulang surat itu dan ada yang sedikit janggal di sana. Entah, tiba-tiba aku berlari keluar dari coffee-shop. Kuremas surat itu dan tergesa kakiku melangkah ke ujung jalan. Terlihat sekumpulan orang tengah berkumpul melongok ke bawah jembatan. Makin bergegas ku dibuatnya.

Kulongokkan perlahan kepalaku ke orang-orang yang tak kalah ramai di bawah jembatan. Jaket kulit warna cokelat tua, topi baseball merah, dan berlumuran darah. Oh tidak, kakiku lemas. Itu dia, lelaki yang tak kan pernah lagi bertanya tentang cinta.

---



--Jogjakarta, 10 Desember 2010 22:27--
--mood hari ini gelap--


pict. source = photobucket.com

nothing to do with you, it's personal, my self and I



I hope you know, I hope you know.
That this has nothing to do with you.
It's personal, Myself and I

Kau dan aku hanya terdiam. Melihat langit penuh bintang di perbukitan. Nyaris sempurna dalam diam. Hanya lukisan malam terpampang untuk santapan mata.

We've got some straightenin' out to do
And I'm gonna miss you like a child misses their blanket

Tak lagi kuhitung berapa banyak bulan purnama terlewat saat kita terpisah jarak. Awal yang meragu, saat aku masih mengubur, kau sibuk dengan masa lalu, dan aku memilih mundur.

But I've got to get a move on with my life
It's time to be a big girl now
And big girls don't cry
Don't cry, don't cry, don't cry

Di purnama yang ke sekian kau datang, berbicara tentang kata. Tapi payah, kau masih bermain dengan isyarat. Aku malas membaca dan masih belum mau beranjak.

The path that I'm walking
I must go alone
I must take the baby steps until I'm full grown

Pernah terbit suatu keinginan, tapi aku masih tak mau terkuras nafsu walau terkadang menyenangkan. Melawan hasrat walau tak kan mudah.

Fairytales don't always have a happy ending, do they
And I foresee the dark ahead if I stay

Orion itu terang karna kita berdua berada di bukit tertinggi milik bumi, tempat terdekat untuk kaki langit. Tak ada cahaya yang mampu mengalahkan terangnya. Dan kita terselimut gelap.

Like the little schoolmate in the school yard
We'll play jacks and uno cards
I'll be your best friend and you'll be mine valentine
Yes, you can hold my hand if you want to
'Cause I want to hold yours too
We'll be playmates and lovers and share our secret worlds

Kau mau bermain? Bolehlah untuk sesekali, asal kau tak bermain tentang pertanda. Kan kurentangkan tangan bila ku ingin, tapi kujulurkan kaki jika letih mendera.

But it's time for me to go home
It's getting late, dark outside
I need to be with myself instead of calamity
Peace, Serenity

Saatnya pulang, tinggalkan bukit bintang, tak perlu ada memoar tersusul. Tak perlu menjadi snow white, sleepin beauty, bahkan little mermaid sekalipun. Aku tak lagi hidup di dunia dongeng. Temuilah 7 kurcaci yang kan menemanimu jika kau kesepian.

I hope you know, I hope you know
That this has nothing to do with you
It's personal, Myself and I

Aku harap kau tau, karna aku tidak bicara tentang isyarat. Aku berbicara tentang kata.



--Jogjakarta, 8 Desember 2010 13:28--
--ketika kata tak lagi terukir indah--

pict. source = photobucket.com

liburan akhir pekan di kerajaan Iblis

Kudapati sebuah lembaran note simpel tertulis di sebuah kertas yang diletakkan begitu saja. Kusentuh, terasa panas. Kuulas senyum kemudian, surat dari kerajaan ternyata.

---

"Pengelola Bagian Kerja menitahkan kepada seluruh penggoda-penggoda untuk rehat sejenak setelah semingguan ini bekerja keras. Paduka cukup puas dengan hasil kerja. Selamat berlibur di akhir pekan."

---

Setelah kubaca, sekejap seluruh kertas berubah menjadi abu, khas surat yang selalu dikirim kerajaan yang berstempel api.

Karna itu, akhir pekan ini aku berlibur dari kerjaku sebagai penggoda, sungguh liburan yang sangat jarang kudapatkan mengingat kerjaanku yang seabrek tak pernah selesai. Walau begitu, tetap kunyalakan devil-messenger untuk menerima pesan dari para bawahan. Kuteliti d-mail yang masuk, tiba-tiba satu pesan online masuk.

Conkz : "Libur nih, bingung mau ngapain."

Segera saja kubalas,
Me : "Loh, biasanya hang-out bareng sama Ruw ato Ana?"

Conkz : "Lagi stress mereka, abis kena relokasi."

Me : "Duh, pindah ke mana?"

Conkz : "Ga tauk, lagi ngungsi di pelataran. Belum jelas dari pihak atas."

Me : "uftt.."

Oconkz adalah teman belajarku dulu waktu kecil. Kita duduk berdampingan sejak tingkat ajar I. Ketemu Genderuw (aku panggil Ruw) dan Kuntanak (Ana) pas tingkat ajar II dan sejak itu kita gabung terus sampai tingkat ajar X. Ruw dan Ana langsung diterjunkan ke lokasi kerja, sedangkan aku dan Oconkz meneruskan sampai tingkat ajar XII.

Aku sedikit beruntung karena masih bisa meneruskan ke tingkat ajar lanjutan yang membawaku menjadi penggoda level tinggi. Dengan fasilitas mewah walau kerjaan seabrek, aku jarang turun ke bumi. Berbeda dengan ketiga sahabatku yang kerjaannya memang di bumi.

Sejak minggu lalu, semua divisi level tinggi mendapat tugas dari Paduka. Karena itu banyak yang bersuka-ria (jarang-jarang paduka menurunkan titah langsung), dan kami para penggoda level tinggi pun membuat pembagian tugas kepada bawahan-bawahan. Tugasnya cukup gampang : "Bumi sedang bergerak, kacaukan manusia. Tidak boleh ada satu pun yang terlewat, kacaukan tuntas."

Sedikit kuceritakan tentang divisiku ini. Kami bekerja untuk menggoda manusia, tepatnya yang berjenis lelaki. Dengan beragam bisikan yang sering dilakukan bawahanku, sampai ada yang sanggup menyamar menjadi beragam bentuk yang sangat menggoda lelaki bumi (sebenarnya tergantung level mereka sendiri sih). Dan karena ada titah dari Paduka langsung, kami pun bergerilya mencari lelaki lebih cepat dari biasanya. Kami hembuskan ide-ide konyol ke telinga mereka hingga semua kata yang terucap selalu menyakiti manusia lainnya. Tak terkecuali siapapun lelaki di bumi, kamilah ahlinya. Dan surat dari Pengelola Bagian Kerja menjadi bukti ketangguhan kerja kami selama seminggu ini. Bumi sedang kacau balau, tak ada satupun lelaki yang mampu berpikir bersih.

Tentang Ruw dan Ana, sebenarnya aku juga tak mampu menawarkan sesuatu. Pembagian wilayah di bumi diatur oleh Pengelola Wilayah Duniawi. Terkadang memang tidak enak menjadi penggoda lapangan. Gara-gara bumi sedang bergerak, kudengar Pengelola Wilayah Duniawi memanggil seluruh penggoda lapangan area 3 untuk berkumpul di pelataran. Baru kutahu dari lelaki-lelaki di bumi bahwa area 3 luluh lantak, pantas saja Pengelola Wilayah Duniawi sampai harus memanggil seluruh penggoda lapangan di area itu. Tak ada lagi pepohonan besar yang nyaman untuk ditinggali penggoda-penggoda level kecil seperti Ruw dan Ana.

Kulanjutkan candaku bersama Oconkz di devil-messenger. Kutawarkan datang ke rumahku yang menggantung di langit ke-tujuh, sayang visa miliknya habis tenggat. Belum sempat diurus, divisinya malah ikut berlibur. Dan aku sendiri juga masih bingung, jarang liburan jadi bingung mau ke mana.

---

Ditulis oleh malaikat hitam yang telah sempurna berubah menjadi manusia berhati iblis di balik meja kerjanya.



---




kisah ini adalah serial iblis


--Magelang, 13 November 2010 14:45--
--dapet ide abis OOT di tempat tetangga, wkwk--


pict. source = fanpop.com